Gareth Southgate menimbang keluarnya Inggris sesudah tersisih dari Piala Dunia

Gareth Southgate menimbang masa datang sesudah Inggris tersisih dari Piala Dunia oleh juara bertahan Prancis di hari Sabtu; Southgate dikontrak ke Inggris sampai akhir Euro 2024

Inggris tersisih dari Piala Dunia oleh Prancis di hari Sabtu dan Southgate inginkan waktu dan ruangan untuk pastikan ia membuat keputusan yang akurat.

Bicara sesudah Inggris tersisih di perempat final, Southgate berbicara: “Kompetisi ini memerlukan beberapa waktu, dan saya butuh waktu untuk berefleksi. Kami sudah melakukan sesudah tiap kompetisi dan itu ialah hal yang betul untuk dilaksanakan.”

Ia menambah: “Saya tidak mau jadi empat, 5 bulan di depan berpikiran saya sudah membuat panggilan yang keliru. Begitu penting untuk semuanya orang untuk lakukan kekeliruan itu.”
Southgate tak pernah sembunyikan bukti jika ia ingin kembali lagi ke management club satu hari kelak apabila ia tinggalkan Inggris, ia akan mengharap untuk landingkan club hebat Liga Champions di Inggris atau Eropa.

Beberapa pemain FA dan Inggris ingin Southgate bertahan sampai minimal Kejuaraan Eropa di Jerman pada 2024. Tahun kemarin, Southgate tanda-tangani ekstensi kontrak 2 tahun yang usai sesudah Euro 2024.

Southgate pimpin Inggris ke semi-final Piala Dunia pertama kali dalam 28 tahun di Rusia pada 2018, keluar di waktu perpanjangan ke Kroasia, saat sebelum kekalahan final Euro 2020 lewat beradu penalti dari Italia pada musim panas 2021.

‘Argumen kuat supaya Southgate masih tetap tinggal’

Pengamat Sky Sports Martin Tyler:

“Ia sudah melakukan dengan baik sekali. Saya sudah menyaksikan Inggris tersisih dari banyak Piala Dunia, tapi jarang-jarang tersisih dengan hati sehat semacam ini.

“Masa datang benar-benar ceria, dan sudah pasti itu semua datang dari Gareth Southgate, langkah ia ambil tidak cuma tugas itu, tapi tugas meningkatkan scuad, dan semua usaha meningkatkan FA dan menggantinya jadi sebuah tempat. di mana beberapa pemain muda ingin betul-betul pergi dan tiba lewat lajur – dan bisa menyaksikan jalur yang lumayan cepat ke timnas.

“Maka ada 100 % argument buat dia bertahan, tetapi terang itu opsi individu dan saya dapat pahami kenapa [dia menimbang periode depannya].”

Analitis: Southgate sudah mengembalikan kebanggaan Three Lions

Peter Smith dari Sky Sports:

“Kami mempunyai integritas sekarang ini. Penjuru dunia yakin jika Inggris bersaing.” Kalimat Gareth Southgate menjelang laga terakhir kalinya bersama negaranya sebagai penghargaan yang patut untuk peninggalannya.

Pada akhirannya, tidak ada piala. Prancis bisa dibuktikan terlampau kuat, dan sepak bola belum juga pulang. Tetapi kemenangan zaman Southgate sudah mengganti timnas dalam dan di luar lapangan, sama seperti yang kelihatan di luar dan dalam negeri.

Saat kritikan pada style Southgate beterbangan sepanjang pengurangan performa dan hasil awalnya tahun ini, gampang untuk lupakan darimanakah ia ambil team ini.

Inggris, ingat, sudah dibuat malu dalam kompetisi beruntun saat ia ambil kendalian. Mereka finish terikuth group dan tanpa kemenangan di Piala Dunia 2014 saat sebelum dibuat malu Islandia di Euro 2016 2 tahun setelah itu.

Semenjak itu, ada semi-final Piala Dunia, final Euro, dan saat ini perempat final ini disingkirkannya oleh juara bertahan Prancis. Ini ialah tingkat stabilitas yang cuma pernah diraih oleh Sir Alf Ramsey antara beberapa perintis Southgate.

Selama waktu bekerja, ada ajakan supaya ia melepas diri dan melepaskan rem tangan. Tapi lewat pendekatannya yang jeli untuk tiap ujian kompetisi besar dan kepimpinan yang memberikan inspirasi sekitar desas-desus besar di luar lapangan, Southgate membuat team yang mendatangkan beberapa momen luar biasa untuk beberapa simpatisannya, dengan beberapa pemain yang mempunyai kasih-sayang yang semakin besar dibanding beberapa pemain awalnya. Jalinan di antara pemain dan penggemar di tribune sudah dipulihkan.

Inggris Southgate pecahkan rekor, pecahkan langit-langit kaca, dan menjadikan satu bangsa ada di belakang simbol Tiga Singa.

Mereka ialah sepakan penalti jauh dari piala di Wembley musim panas kemarin. Gelar besar pertama semenjak 1966 masih tetap susah dimengerti, tapi sama seperti yang disebutkan Southgate, Inggris sudah dibalikkan ke tingkat elit di bawah pemantauannya.

Sesudah kekalahan yang menyakitkan dari Prancis, itu ialah peninggalan yang dapat dibanggakan – dan basis yang fenomenal untuk dibuat oleh substitusinya.

Leave a Reply